Revolusi Sistem Pembayaran


Pekik merdeka sudah terdengar sebanyak 70 kali sepanjang sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selama itu pula Indonesia mengalami perjalanan panjang dalam mempertahankan kemerdekaannya. Banyak perubahan yang telah terjadi di Negara ini dalam berbagai bidang termasuk juga sistem pembayaran. Kegiatan tukar menukar barang atau yang lebih sering disebut barter, menjadi bagian dari sejarah perubahan tersebut. Sistem barter dilakukan karena pada waktu itu belum ada alat tukar yang dapat memberikan nilai pasti pada suatu barang. Kegiatan barter mulai berkurang saat munculnya alat tukar berupa uang. Nilai atau harga suatu barang dapat diukur berdasarkan nominal uang. Sejak saat itu masyarakat mulai melakukan kegiatan perdagangan dengan menggunakan uang, baik uang kertas maupun uang logam. Semua aktivitas pembayaran berjalan baik sampai munculnya kegiatan lain yang berkaitan dengan uang, yaitu kegiatan pengiriman uang.

 

Kegiatan pengiriman uang pada masa lampau dilakukan dengan menggunakan jasa wesel. Meskipun sudah banyak Bank yang berdiri di Indonesia pada masa itu, masyarakat lebih memilih jasa wesel karena tidak diperlukan nomor rekening dalam proses pengiriman. Namun  seiring perkembangan teknologi, jasa perbankan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan pengiriman uang tersebut melalui mesin ATM dengan memperbanyak lokasi mesin di seluruh daerah baik pedesaan maupun perkotaan. Dalam perkembangan tersebut, ALTO turut mengambil peran dengan menjadi perusahaan jaringan ATM dan juga  menyediakan mesin ATM sebagai sarana kegiatan pengiriman uang antar bank atau yang lebih dikenal dengan transfer dan tarik tunai.

 

Tidak berhenti pada kegiatan transfer saja, munculnya alat pembayaran non tunai selain kartu ATM, menjadi bukti bahwa Indonesia senantiasa mengedukasi kepada masyarakatnya akan kemajuan teknologi pada sistem pembayaran. Dikutip dari bi.go.id, Bank Indonesia berinisiatif dan akan terus mendorong untuk membangun masyarakat yang terbiasa memakai alat pembayaran non tunai atau Less Cash Society (LCS). Gerakan tersebut dijadikan landasan bagi lembaga bank maupun non bank untuk menyediakan alat pembayaran non tunai. Masyarakat dapat memilih alat pembayaran non tunai mana yang menurut mereka mudah dan aman digunakan. Keamanan menjadi faktor utama dipilihnya salah satu alat pembayaran non tunai seperti mobile banking, internet banking, kartu debit, kartu kredit, kartu prepaid, dan uang elektronik. Dukungan pemerintah salah satunya terwujud melalui  Peraturan Bank Indonesia Nomor 16/1/PBI/2014 tentang perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran. Hal tersebut menjadi bukti kepedulian pemerintah kepada masyarakat dalam memilih sistem pembayaran mana yang akan digunakan.

 

Mengulas kilas balik mengenai sistem pembayaran sejak era barter barang hingga munculnya uang sebagai alat tukar yang sah, kemudian berevolusi seiring perkembangan teknologi dengan adanya perubahan pada sistem pembayaran yang dipilih masyarakat menjadi bukti bahwa penduduk Indonesia tanggap akan perubahan. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengedukasi masyarakat agar mengikuti perubahan yang terjadi pada sistem pembayaran. Pada era modern seperti saat ini, kemerdekaan bukan lagi membicarakan mengenai penjajahan dan kekuasaan wilayah, namun lebih pada bagaimana Negara dapat membawa rakyatnya menjadi pribadi yang tanggap akan perubahan, salah satunya revolusi pada sistem pembayaran. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 70 TAHUN, MERDEKA !